Jumat, 21 Januari 2011

KASUS-KASUS METODE ORGANISASI


ANALISIS BEBAN KERJA DALAM RANGKA RESTRUKTURISASI ORGANISASI DI PT PETROKIMIA GRESIK


PT Petrokimia Gresik merupakan perusahaan/produsen pupuk dan bahan kimia yang cukup besar dan kompleks. Didalam perjalanannya, seringkali dilakukan perubahan/penataan kembali struktur organisasi agar lebih effisien, effektif, responsive dan dapat menjawab tantangan kedepan dalam rangka memenangkan persaingan baik ditingkat regional maupun global. Permasalahan yang sering muncul adalah bagaimana menata struktur organisasi yang cocok bagi perusahaan dan didukung oleh seluruh unit kerja sehingga benar-benar mampu mendukung pencapaian sasaran perusahaan. Struktur organisasi merupakan salah satu sarana/wadah yang cukup penting didalam pencapaian sasaran-sasaran strategis suatu perusahaan. Pada saat tertentu perlu diadakan pengkajian ulang terhadap struktur organisasi sehubungan dengan adanya perubahan situasi bisnis atau pengaruh intern maupun ekstern perusahaan. Dalam kenyataannya sudah cukup lama Perusahaan tidak melakukan pengkajian terhadap struktur organisasi meskipun telah banyak perubahan yang terjadi. Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan didalam merancang struktur organisasi. Didalam kasus ini dilakukan analisis beban kerja dengan pendekatan menggunakan work sampling untuk merestrukturisasi organisasi di Unit Produksi dan Pemeliharaan. Langkah-langkah/ pendekatan seperti ini dapat dilakukan untuk menyusun struktur organisasi di unit kerja yang lainnya. Hasil akhir dari analisis ini adalah struktur organisasi Unit Produksi dan Pemeliharaan yang sesuai dengan beban kerja karyawan di unit tersebut. Dengan demikian akan diperoleh kondisi yang optimal didalam mendukung sasaransasaran strategis yang ditetapkan Perusahaan.



PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN PERFORMANSI ORGANISASI DENGAN METODE INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEMS" (STUDI KASUS: BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN PROPINSI JAWA TIMUR)

Penyelenggaraan Good Governance merupakan prasyarat bagt setiap pemerintahan, sehingga diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas, dan nyata. Untuk menjawab hal itu, diperlukan adanya Sistem Pengukuran Performansi Organisasi Pemerintahan yang berusaha mengidentifikasikan indikator-indikator performansi dari organisasi pemerintahan tersebut. Pada penelitian ini digunakan metode Integrated Performance Measurements Systems (IPMS) untuk mengukur performansi Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur. Metode IPMS mengukur performansi organisasi dengan menarik Key Performance Indicator (KPI) dari Stakeholder Requirements dengan melalui 4 tahapan yakni Identifikasi Stakeholder Requirement, Analisis External Monitor, Penetapan Objectives serta mengidentifikasi Key Performance Indicator (KPI). Dari hasil perancangan sistem pengukuran performansi organisasi di Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur, dapat diidentifikasi 39 indikator performansi (KPI) yang dikelompokkan kedalam 5 kriteria kinerja Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur, yakni Input, Proses Perencanaan Pembangunan, Program Pembangunan, Pengendalian dan Evaluasi serta Sistem Manajemen. Sedangkan hasil dari implementasi perancangan sistem pengukuran perfonnansi pada salah satu pilot project di Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi Jawa Timur untuk kriteria Pengendalian dan Evaluasi pencapaian performansi terhadap target sebesar 98,85%, sehingga dapat dikatakan performansinya Sangat Baik, sedangkan untuk kriteria Sistem Manajemen sebesar 91% dimana hal ini menunjukkan bahwa kriteria Sistem Manajemen performansinya Baik. Dengan adanya sistem pengukuran performansi ini akan dapat memahami tujuan yang ingin dicapai organisasi, berdasarkan stakeholder requirement, ukuran-ukuran performansi yang menggambarkan pencapaian tujuan organisasi, target yang ditetapkan berdasarkan kemampuan organisasi sebelumnya serta keinginan organisasi untuk peningkatan performansi dimasa yang akan datang.




PENERAPAN IT SECARA TOP-DOWN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PENGUKURAN KINERJA UNTUK PENINGKATAN KINERJA ENTERPRISE

Berdasarkan hasil riset dan survei yang dilakukan oleh lembaga-lembaga konsultasi IT ternama, ternyata banyak investasi IT yang gagal atau memberikan manfaat tidak seperti yang diharapkan sehingga menimbulkan kekhawatiran organisasi/perusahaan atas berhasilnya pengembalian investasi IT untuk mendukung objektif bisnis organisasi/perusahaan. Upaya untuk memperkecil resiko kegagalan atau meningkatkan keberhasilan investasi IT dapat dilaksanakan secara terencana dengan penerapan IT secara top-down yang selaras dengan tujuan bisnis organisasi/perusahaan. Dalam perencanaan strategis IS/IT perlu dievaluasi lingkungan internal bisnis , seperti posisi bisnis organisasi/perusahaan dan tujuan bisnis yang ingin dicapai; lingkungan eksternal bisnis seperti kompetiter, makroekonomi, politik; kemudian didefinisikan kebutuhan IS/IT untuk menunjang bisnis dan inisiatifnya yang dapat diterjemahkan dalam desain arsitektur enterprise IT. Arsitektur enterprise ini digunakan sebagai acuan organisasi/perusahaan untuk tahapan implementasinya berdasarkan proses migrasi yang terencana. Pada studi ini diberikan hasil kasus secara generik untuk portfolio aplikasi dan relasi antar cluster yang dapat digunakan untuk membentuk arsitektur enterprise. Dalam laporan juga dibahas sistem pengukuran kinerja yang perlu diterapkan baik untuk mengukur kinerja IT sebagai enabler bisnis maupun kinerja bisnis sehingga peta strategi yang dilaksanakan dapat menempatkan organisasi/perusahaan pada posisi yang kompetitif.


RESTRUKTURISASI SISTEM MANAJEMEN INFORMASI RUMAH SAKIT TERPADU PADA BAGIAN APOTEK DAN MANAJEMEN

Perbedaan pelayanan kesehatan diantara organisasi kesehatan menyebabkan dibutuhkannya sistem informasi yang dapat diterapkan di lingkungan organisasi kesehatan yang berbeda. Hal yang terpenting dari sistem informasi ini adalah fleksibilitas untuk dapat mngikuti perkembangan organisasi kesehatan yang menerapkannya. Aplikasi sistem Informasi Rumah Sakit Terpadu (SIRST) memiliki arsitektur yang tidak mampu memberikan fleksibilitas yang dibutuhkan karena memiliki arsitektur yang monolitik. Proses restrukturisasi SIRST pada bagian apotek dan manajemen organisasi kesehatan dimulai dengan melakukan review terhadap dokumen SKPL dan DPPL dari SIRST, melakukan proses klasifikasi dan pemrioritasan komponen, membuat desain komponen dengan prioritas terbanyak dan terakhir mendesain komponen apotek dan manajemen organisasi kesehatan. Komponen ini akan menjadi service dalam arsitektur SOA (Service Oriented Architecture). Hasil dari tugas akhir ini adalah berupa desain restruksturisasi komponen SIRST dengan menggunakan arsitektur SOA, yaitu desain apotek dan manajemen rumah sakit yang bersifat dapat dilepas dan dipasang secara mandiri. Disamping itu dihasilkan juga komponen "main" yang merupakan komponen utama tempat melekatnya komponen yang lain.



EFEKTIVITAS ORGANISASI DALAM PUNGUTAN RETRIBUSI KEBERSIHAN DI KOTA PALEMBANG

Sampah merupakan masalah diseluruh kota di Indonesia yang harus di kelola dengan baik dan terencana, karena umumnya pertumbuhan produksi sampah selalu lebih cepat dari upaya penanggulangannya. Untuk kota Palembang, pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota. Dana pengelolaan sampah berasal dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Sumber pendapatan daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah Pajak, retribusi, hasil perusahan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah, serta Iain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Karena pengelolaan sampah adalah pelayanan jasa, maka pemerintah berhak menarik retribusi pelayanan sebagai imbalan jasa atas pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat. Dengan pelaksanaan yang selama ini telah dilaksanakan sebagai tugas pokok organisasi maka tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Untuk mengkaji dasar penentuan target retribusi kebersihan untuk mencapai tingkat efektivitas organisasi yang optimal; (2) Mengkaji sistem yang diterapkan dalam pelaksanaan pungutan retribusi kebersihan; (3) Mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas organisasi dalam pemungutan retribusi kebersihan di Kota Palembang ; dan (4) Memberikan alternatif sistem pungutan retribusi untuk meningkatkan efektivitas organisasi pengelola kebersihan di Kota Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Analisa yang dilakukan dengan menggunakan analisa kualitatif dan kuantitatif. Populasi yang diambil adalah pemungut retribusi (kolektor). Data diinterpretasikan menggunakan analisis tabulasi silang dan penetapan strategi digunakan analisa secara matrik. Hasil penelitian menunjukkan dalam penetapan target retribusi yang di lakukan Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota Palembang berdasarkan jumlah potensi wajib retribusi yang terdata tanpa mempertimbangkan proses pencapaiannya. Pola atau sistem pungutan yang diterapkan adalah Pola Pelayanan Masyarakat yaitu pola dimana pemerintah sebagai pengatur sekaligus juga sebagai produsen bagi konsumen (masyarakat). Yang mempengaruhi tingkat efektivitas organisasi dalam pungutan retrbusi ada 4 karakteristik yaitu : Karakteristik Organisasi, Karakteristik Lingkungan Organisasi, Karakteristik Sumberdaya Manusia, dan karakteristik kebijakan / penerapan sangsi. dengan tingkat signifikan/ kepercayaan sebesar 90 %. Strategi yang harus dilakukan untuk meningkatkan efektifitas organisasi adalah dengan mengembangkan metode kerja yang efektif dan efisien, serta peningkatan koordinasi kerja dilapangan antara akiti vitas swadaya masyarakat dengan aktivitas operasional badan pengelola. Selain itu diperlukan upaya untuk memperbesar peran serta masyarakat


Sumber :
http://digilib.its.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar