Tugas Ilmu Sosial Dasar : Pendidikan Masyarakat dan Kebudayaan

Fenomena Gigolo

Devinisi Kebudayaan menurut Edward B.Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.

Kebudayaan Barat dan Kebudayaan Timur
Kebudayaan Barat adalah kebudayaan yang cara pembinaan kesadarannya dengan cara mamahami ilmu pengetahuan dan filsafat. Mereka melakukan berbagai macam cara diskusi dan debat untuk menemukan atau menentukan makna seperti apa yang sebenarnya murni /asli dari kesadaran. Mereka banyak belajar dan juga mengajar yang awalnya datang dari proses diskusi dan perdebatan yang mereka lakukan. Melalui proses belajar dan mengajar, para ahli kebudayaan barat dituntut untuk pandai dalam berceramah dan berdiskusi. Hal itu dilakukan karena pada akhirnya akan banyak yang mengikuti ajarannya..
Kebudayaan Timur adalah kebudayaan yang cara pembinaan kesadarannya dengan cara melakukan berbagai macam pelatihan fisik dan mental. Pelatihan fisik dapat dicontohkan dengan cara menjaga pola makan dan minum ataupun makanan apa saja yang boleh dimakan dan minuman apa saja yang boleh di minum, karena hal tersebut dapat berpengaruh pada pertumbuhan maupun terhadap fisik. Sedangkan untuk pelatihan mental yaitu dapat berupa kegiatan yang umumnya/mayoritas dilakukan sendiri, seperti : bersemedi, bertapa, berdo’a, beribadah, dll.

Pendidikan Masyarakat dan Kebudayaan
Pendidikan hanya dapat dilakukan oleh makhluk yang berbudaya dan yang menghasilkan nilai kebudayaan yaitu manusia. Hal ini juga yang merupakan perbedaan antara manusia dan hewan dengan adanya budaya dan pendidikan. Sifat dunia hewan statis, dimana instink dan dan reflek sebagai pembatas (misalnya lingkungan air, udara dan tanah). Kehidupan tersendiri bagi hewan tersebut. Sifat dunia manusia terbuka, dimana manusia memberi arti bagi dunianya (secara kongkrit).
Bangsa Indonesia menganut kebudayaan timur, yang mencakup norma-norma dan etika tentang bagaimana cara menghormati orang tua, sesama dan orang yang lebih muda. Pendidikan mengenai norma-norma sudah diajarkan sejak kecil baik di lingkungan sekolah yang diajarkan para guru maupun dilingkungan rumah yang diajarkan para orangtua. Diharapkan dengan mengajarkan norma-norma sejak kecil, para generasi muda dapat berprilaku dan bertindak dengan sopan, santun dan benar.
Era globalisasi telah menimbulkan banyak perubahan dalam segala bidang kehidupan manusia, antara lain terciptanya kehidupan dengan arus informasi yang super cepat (information superhighway) dan terbentuknya suatu dunia tanpa batas (borderless world) dimana batas-batas politik, ekonomi dan budaya antar bangsa menjadi samar. Perubahan tersebut telah menimbulkan dampak dimana seluruh ketergantungan dan hubungan antar bangsa menjadi transparan, yang pada akhirnya telah menciptakan implikasi yang luas terhadap seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan masuknya pengaruh budaya asing membuat perubahan terhadap budaya bangsa khususnya ditempat-tempat yang banyak disinggahi  oleh bangsa asing, seperti pulau dewata (bali), dan kota-kota besar (Jakarta, bandung,dll). Contoh pengaruh budaya asing yang merubah budaya bangsa adalah fenomena gigolo.
Gigolo atau laki-laki pemuas nafsu wanita yang butuh kenikmatan seksual diluar jalur pernikahan, menjadi teman selingkuh bagi wanita yang ingin mencoba seks berbeda di belakang suaminya. Itu mungkin pengertian dan definisi sederhana dari Gigolo.
Dan faktanya, Gigolo bukan sebuah dongeng tapi memang nyata adanya. Gigolo bisa disebut juga PSK Pria atau laki-laki pelacur. Seiring perkembangannya, ternyata Gigolo tidak hanya memperuntukan dirinya untuk wanita tapi juga untuk laki-laki (om-om) penyuka sesama jenis alias Guy Alias Homo.
Sebuah liputan (deep reporting) media massa baik cetak maupun elektronik pun sudah banyak yang mengungkap keberadaan Gigolo terutama di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang, dll.
Salah satunya adalah pada liputan mendalam SCTV ‘SIGI.’ Atau bisa juga disimak pada film Arisan Brondong dan Quickie Express, dua Film Indonesia yang mengangkat kehidupan para Gigolo kelas atas.
Jika dilihat pada kasus yang terungkap pada sumber-sumber diatas, maka motif uang atau faktor ekonomi menjadi alasan utama yang dikedepankan para Gigolo untuk merelakan dirinya menjadi pemuas nasfsu tante girang maupun om girang.
Seperti yang pernah diungkap pada Acara SIGI SCTV, umumnya para Gigolo ini memasang tarif antara Rp. 500 ribu hingga jutaan rupiah. Mereka memiliki jaringan yang rapi dan broker (germo) yang lihai dalam mencari mangsanya.
Para Gigolo ini ada yang berstatus cowok panggilan dan ada juga yang bergerilya secara mandiri mencari mangsa di tempat fitnes atau kebugaran, hotel, klub malam, cafe dan tempat strategis lainnya bagi mereka yang tentunya aman.
Dibalik motif ekonomi, tidak menutup kemungkinan bahwa motif birahi dan petualangan seks juga menjadi alasan bagi mereka yang berprofesi sebagai Gigolo atau yang coba-coba ingin menjadi Gigolo.
Budaya instan yang sudah tertanam dalam diri manusia berkembang pesat dan menjadi kunci utamanya. Mendapatkan uang secara instan dan kenimatan sesaat dengan modal tubuh atau body yang gagah.
Dalam kesimpulan sederhana, berdarkan uraian diatas, Fenomena Gigolo bukan hanya fenomena sosial, bukan hanya juga fenomena ekonomi dan kemerosotan moral, dan berubahnya budaya ..
Mereka (kaum Gigolo) memiliki nilai sendiri yang dijadikannya seakan benar dibalik ketidak mampuannya secara ekonomi, serta ketidakberdayaan untuk keluar dari masalah ekonomi dan moral yang menimpanya.
Sebagai entitas budaya dan kaum minoritas, mereka punya aturan dan konvensi sendiri, punya norma dan nilai sendiri, mereka hidup secara tertutup, sendiri maupun berkelompok, memiliki cara dan perilaku yang sama dengan tujuan yang sama, dan yang pasti mereka memiliki pembenaran dalam tindakannya.

Reff:
www.gugling.com
www.wikipedia.com